Kategori
Artikel

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Beberapa waktu yang lalu, di sebuah akun FB saya melihat ada sebuah postingan yang memperlihatkan kondisi sebuah sekolah swasta di sebuah daerah di Jawa Timur. Dalam deskripsinya, pemosting yang kebetulan salah satu guru di sekolah tersebut menjelaskan bahwa dulu, sekolahnya tersebut kurang diminati oleh masyarakat, muridnya sedikit, bahkan terancam ditutup.

Tetapi dengan upaya yang gigih dari guru-gurunya, akhirnya mereka sedikit demi sedikit mampu membuktikan bahwa sekolah mereka dapat bertahan, bahkan berprestasi. Dengan segala keterbatasan, mereka membuat berbagai program untuk meningkatkan mutu sekolahnya.

Setelah sekolah tersebut maju, ternyata cukup menarik perhatian dan banyak yang datang melakukan studi banding. Kepada para tamu yang datang, dia menyampaikan rahasia utama sehingga sekolahnya bisa maju, yaitu mendidik siswa dengan sepenuh hati. Mereka menjadikan tugas mendidik siswa sebagai ladang perjuangan dan jihad mencerdaskan anak bangsa.

Mendidik dengan hati. Itulah hal yang menarik bagi saya. Mengapa? Karena kalau mendidik dengan hati, berarti guru melakukan pekerjaan dengan niat yang tulus, penuh dedikasi dan loyalitas terhadap tugasnya. Mengajar tidak sekedar datang ke sekolah, sampaikan materi sampai selesai, lalu pulang, tetapi memang niat untuk berjihad memberantas kebodohan dan melahirkan generasi-generasi bangsa yang berakhlak mulia.

Guru memosisikan siswa sebagai amanat yang harus dijaga dengan baik. Siswa pun diposisikan sebagai pelanggan yang perlu diberikan layanan terbaik. Dalam melaksanakannya memang tidak mudah. Guru dihadapkan pada berbagai tantangan, baik dari internal, maupun eksternal, seperti kondisi psikologis guru, pengaruh komunikasi guru dengan kepala sekolah, komunikasi antarsesama guru, latar belakang dan karakter siswa yang beragam.

Guru yang mendidik siswa dengan hati akan melakukan berbagai ikhtiar agar siswa-siswanya memahami materi pelajaran dan memiliki sikap yang baik disertai doa kepada Allah Swt agar diberikan kekuatan, kemudahan, dan petunjuk dalam melaksanakan tugas. Selain menjadi guru, dia pun menjadi pendengar yang baik terhadap harapan-harapan siswanya.

Dia menjadi teman diskusi yang menyenangkan bagi siswanya. Dia menjadikan siswa-siswanya bak anaknya sendiri yang diurusnya dengan penuh kasih sayang. Dia pun memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi siswa-siswa yang nakal disertai upaya dan doa agar siswanya tersebut segera diberikan hidayah dari Allah Swt.

Kepada para guru, mari kita melakukan refleksi; apakah dalam melaksanakan tugas mendidik siswa sudah diawali dengan yang lurus untuk mencerdaskan anak bangsa atau hanya sekedar melaksanakan tugas dan mendapatkan tunjangan profesi? Apakah dalam setiap salat dan doa-doa yang dipanjatkan, para siswa juga didoakan agar mereka diberikan kemudahan dalam belajar, dan dilembutkan hatinya agar menjadi manusia yang berakhlak mulia?

Apakah guru suka mengucapkan terima kasih jika dibantu oleh siswa? Apakah guru suka memohon maaf jika misalnya pernah berbuat salah kepada siswa? Apakah guru suka mendoakan agar para siswanya sukses di masa depan?  Hal tersebut dapat dilakukan jika guru mendidik disertai dengan hati.

Ketika siswa ada yang nakal atau sulit menerima pelajaran, mungkin saja sebagai dampak dari guru kurang ikhlas dalam menjalankan tugas, hanya menjadikan murid sebagai objek, padahal mereka adalah makhuk yang unik dengan segala kecerdasan yang dimilikinya. Mungkin siswa tidak mendapatkan hal yang memang yang diharapkannya di sekolah, seperti perhatian dan kasih sayang guru.

Hati siswa memang perlu disentuh dengan hati juga. Mendidik memang perlu kesabaran. Batu yang keras pun akan dapat tertembus oleh titik demi titik air yang terus jatuh di atasnya. Binatang yang buas pun jika mendapatkan perlakuan yang baik, diurus dengan penuh kasih sayang, diberikan apa yang menjadi keinginannya, ternyata dapat menjadi jinak dan turut kepada orang yang mengurusnya. Apalagi kalau manusia yang memiliki hati nurani?

Kategori
Artikel

9 Tips Super Menjadi Guru Teladan

9 Tips Super Menjadi Guru Teladan – Guru adalah seorang manusia yang diembani tugas untuk mendidik dan mengajari peserta didik. Dengannya siswa mendapatkan ilmu dan dengannya pula siswa memperoleh contoh serta teladan dari gurunya. Apabila seorang guru belum mampu untuk memberikan suatu contoh yang baik bagi anak didiknya, sungguh teramat disayangkan sekali. Dikhawatirkan generasi – generasi penerus yang dihasilkannya akan menjadi sesosok manusia yang tidak bermoral serta tidak beretika sebagai manusia berkhlakul karimah. Oleh karena itulah, guru yang teladan ada sesuatu yang urgen dan penting eksistensinya ditengah – tengah para siswa.

Membahas tentang tema”teladan”, maka disini kita bisa membuat kesimpulan bahwa guru pada dasarnya tidak sekedar mentransfer ilmu kepada muridnya saja akan tetapi bisa menjadi teladan bagi anak didiknya. Namun demikian, kita harus akui bersama tidak semua guru memiliki kemampuan tersebut. Banyak sekali diantara mereka yang belum mampu memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya. Disini setidaknya ada beberapa tips dan trik bagi anda para guru untuk menjadi seorang guru yang teladan. Adapun ulasannya adalah sebagi berikut:

1. Persiapkan mental

Mental sangat diperlukan ketika kita hendak mulai mengajar karena apapun yang sudah kita persiapkan akan hancur ketika dalam penyampaiannya gugup. Tanamkanlah dalam hati rasa percaya diri yang tinggi ketika berada dalam kelas.

2. Penuhi harapan anak didik/siswa

Siswa akan berharap banyak kepada guru, karena bagi mereka guru itu sumber ilmu. Apapun yang mereka belum ketahui pasti ditanyakan kepada guru.

3. Jadilah orang tua

Menjadi orang tua kedua bagi siswa adalah salah satu tugas seorang guru serta harus siap menghadapi kemanjaan dan kenakalan mereka, seperti menghadapi anak kandung sendiri.

4. Buatlah peraturan dalam kelas

Peraturan dibuat sebagai batasan atau rambu-rambu yang harus dipatuhi semua siswa. Sebaiknya peraturan dibuat berdasarkan musyawarah bersama antara guru dan siswa, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

5. Buatlah sanksi indisipliner

Sanksi yang diberlakukan bagi pelanggar peraturan pun harus telah didiskusikan dan disepakati sebelumnya antara guru dan anak didik. Jadi ketika mereka melakukan indisipliner sudah tahu sanksi yang akan mereka terima.

6. Hindari sikap tegang, selingi humor

Humor merupakan cara paling efektif bagi seorang guru untuk mencairkan suasana yang tegang ketika proses belajar mengajar berlangsung. Humor mampu menetralisir situasi.

7. Berkomunikasilah dengan semua

Berkomunikasi dengan anak didik itu sangat penting karena dari sinilah seorang guru dapat mengetahui karakter mereka. Dengan orang tua siswa juga perlu adanya komunikasi dua arah agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar. Guru juga harus mampu berkomunikasi dengan guru lainnya dan semua pihak sekolah.

8. Guru adalah pekerjaan mulia

Tanamkan rasa ikhlas dalam menyampaikan ilmu kepada anak didik serta yakinkan dalam diri bahwa pekerjaan yang dilakukan adalah mulia. Karena dari tangan gurulah generasi penerus bangsa akan tercipta. Baik buruknya mereka kita lah yang tentukan sebagai seorang guru.

Menjadi guru adalah sebuah kemuliaan, karena surat yang pertama kali turun dalam Al-Quran memerintahkan kepada umat manusia agar dapat membaca. Dan seorang siswa tidak akan mampu membaca tanpa ada yang mengajarkannya (dibaca : guru). Dan di sinilah peran guru sangat diperlukan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, baik cerdas secara kognitif maupun secara afektifnya.

Source: Dakwatuna.com

Kategori
Uncategorized

Menjadi Guru Hebat

 

Oleh Muhbib Abdul Wahab*

Jangan tanggung-tanggung jika Anda menjadi guru. Jadilah guru yang hebat dan teladan. Guru hebat ditandai dengan 5 indikator: (1) kualitas diri, (2) integritas moral, (3) kedalaman ilmu, (4) keterampilan (terutama mendayagunakan metode dan media), dan (5) komitmen (adanya panggilan jiwa dan penuh tanggung jawab). Profesi guru itu sangat mulia dan menentukan masa depan bangsa, bahkan turut mempengaruhi seseorang kelak masuk surga atau neraka!!

Menjadi guru hebat menuntut keahlian dan keterampilan tersendiri, karena guru hebat harus menjadi komunikator, motivator, inspirator, dan pembangun kepribadian dan karakter siswa/mahasiswa. Guru hebat harus mau dan mampu melakukan, minimal 6 hal:

  1. Memiliki keinginan untuk mengenal, menyentuh hati siswa serta melibatkannya dalam proses pembelajaran. Ketika berkomunikasi dengan mereka , guru harus bisa melakukan kontak mata sekaligus kontak hati. Semakin mengenal jati diri siswanya, guru seharusnya semakin arif dan bisa mendekati serta membangun kerjasama yang saling menguntungkan.
  2. Mengomunikasikan tujuan dan harapan secara eksplisit. Ketika mengawali proses pembelajaran di dalam kelas, idealnya guru dapat meyakinkan mereka bahwa tujuan dan harapan yang hendak dicapai pada jam pelajaran ini penting dan baik.
  3. Menyiapkan dan menjadikan bahan ajar menarik, menantang, dan merangsang (menstimulir).
  4. Mendorong siswa/mahasiswa berpikir kritis dan kreatif, dan memberanikan mereka menerapkan pengatahuan yang sudah dipahaminya secara praktis. Guru bahasa Arab misalnya harus mampu member contoh berbicara dalam bahasa Arab secara baik berikut membisakan dan membiasakan mereka berbahasa Arab.
  5. Melakukan kontekstualisasi dengan dunia nyata. Materi yang diajarkan seoptimalkan mungkin dikaitkan dengan perkembangan sosial, budaya, ilmu, pendidikan dan sebagainya, sehingga menjadi lebih menarik dan dinamis.
  6. Masuki “dunia siswa/mahasiswa, dan jangan paksakan dunia guru dimasukkan dalam dunia mereka.” Senada dengan itu, Imam Ali bin Abi Thalib menyatakan: “Didiklah anak-anak sesuai dengan konteks zaman mereka, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kalian.”

Ada sejumlah langkah menuju guru hebat:

  1. Menunjukkan model pembelajaran yang hebat (guru sebagai model teladan)
  2. Membelajarkan bagaimana (cara) belajar yang efektif bagi siswa/mahasiswa
  3. Beristiqamah dengan prinsip: “Latihan dan praktik yang intensif membuat siswa/mahasiswa semakin belajar, memahami pelajaran dan terampil.” Proses pembelajaran kita seringkali kering dari latihan, praktik, dan aplikasi nyata dari teori yang telah dikatahui.
  4. Berani, peduli, dan menjalin hubungan atau komunikasi yang intens dan positif dengan siswa/mahasiswa.
  5. Meyakini dan mempraktikkan ekspektasi (harapan) yang tinggi. Guru yang hebat harus berpikir positif, optimis, dinamis, dan futuristik.
  6. Mendorong kesadaran diri dan tanggung jawab secara moral dan professional. Guru hebat bukan semata-mata mengemban tanggun jawab profesinya, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban secara moral di hadapan umat dan Tuhan.

Guru hebat adalah guru yang memiliki karakter sebagai berikut:

  1. Menstimuli (mendorong) dan memberikan tantangan kepada siswa/mahasiswanya ke arah prestasi yang lebih tinggi dan menuju kemajuan masa depan yang lebih prospektif.
  2. Menyatakan standar kompetensi dan target-target ekspetatif kepada mereka.
  3. Mempartisipasikan mereka dalam perencanaan, proses dan program pembelajaran secara konstruktif dan produktif.
  4. Menggunakan metode dan media yang efektif, kontekstual dengan tujuan, materi, perkembangan peserta didik, dan kondisi yang ada.
  5. Memberikan umpan bali (feedback) yang konstruktif. Guru hebat tidak semata-mata memberi tugas kepada siswa/mahasiswanya, tetapi juga harus member respon, koreksi, revisi, pengayaan materi, dan inovasi-inovasi lainnya.

Pada akhirnya guru hebat harus menyontoh Rasulullah Saw. dalam mendidik para sahabatnya. Beliau menyatukan antara kata dan tindakan nyata. Beliau memahami dan berbicara sesuai dengan tingkat kemampuan para sahabatnya: memotivasi bukan mengintimidasi, mempermudah bukan mempersulit, menyederhanakan bukan merumitkan. Terkadang beliau mendidik dengan contoh, dengan dialog, dengan kisah, dengan sejarah, dan aneka pendekatan lainnya. Guru kemanusiaan terhebat seperti Nabi SAW selalu berkomitmen untuk membisakan dan membiasakan siswa/mahasiswanya berbudi pekerti, berperilaku santun dan terhormat.

Guru hebat seperti kanjeng Nabi Saw adalah guru yang bisa memanusiakan manusia yang berkarakter dan berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, dan berkepribadian unggul dan bermartabat. Guru yang hebat dan mulia adalah guru selalu mau belajar, meningkatkan kualitas diri dan performanya, sehingga dapat memberi layanan edukasi yang terbaik dan mencerdaskan.

*)Waki Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FITK UIN Jakarta