Kategori
Artikel

BAGAIMANA AGAR ANAK SENANG MENGERJAKAN SHALAT DENGAN GEMBIRA??

 

Untuk bisa senang dibutuhkan metode pengajaran dan pendekatan yang menarik bagi anak.

Ayah Bunda,

Anak bisa Shalat itu biasa…

tapi anak mengerjakan Shalat dengan gembira itulah yang ditanamkan Ustad/ah pada anak2 tanpan tekanan, tanpa paksaan, dan tenpa beban.

Ayah Bunda bisa meniru untuk pembiasaan di rumah,

dengan melaksanakan tips berikut :

  1. Ketika adzan berkumandang berilah informasi tentang adzan
  2. Mengajak anak bersiap2 mengambil air wudhu
  3. Berangkat ke masjid dengan dengan gembira. bisa jalan kaki, naik motor atau naik mobil (berilah pengalaman gembira pergi ke masjid)
  4. Beri pesan2 tentang sikap anak ketika di masjid agar anak dapat bersikap seperti kehendak orang tua
  5. Beri wawasan / gambaran tentang masjid. agar terkenang sampai dewasa

Selamat mencoba semoga berhasil…🙏

Kategori
Artikel

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Beberapa waktu yang lalu, di sebuah akun FB saya melihat ada sebuah postingan yang memperlihatkan kondisi sebuah sekolah swasta di sebuah daerah di Jawa Timur. Dalam deskripsinya, pemosting yang kebetulan salah satu guru di sekolah tersebut menjelaskan bahwa dulu, sekolahnya tersebut kurang diminati oleh masyarakat, muridnya sedikit, bahkan terancam ditutup.

Tetapi dengan upaya yang gigih dari guru-gurunya, akhirnya mereka sedikit demi sedikit mampu membuktikan bahwa sekolah mereka dapat bertahan, bahkan berprestasi. Dengan segala keterbatasan, mereka membuat berbagai program untuk meningkatkan mutu sekolahnya.

Setelah sekolah tersebut maju, ternyata cukup menarik perhatian dan banyak yang datang melakukan studi banding. Kepada para tamu yang datang, dia menyampaikan rahasia utama sehingga sekolahnya bisa maju, yaitu mendidik siswa dengan sepenuh hati. Mereka menjadikan tugas mendidik siswa sebagai ladang perjuangan dan jihad mencerdaskan anak bangsa.

Mendidik dengan hati. Itulah hal yang menarik bagi saya. Mengapa? Karena kalau mendidik dengan hati, berarti guru melakukan pekerjaan dengan niat yang tulus, penuh dedikasi dan loyalitas terhadap tugasnya. Mengajar tidak sekedar datang ke sekolah, sampaikan materi sampai selesai, lalu pulang, tetapi memang niat untuk berjihad memberantas kebodohan dan melahirkan generasi-generasi bangsa yang berakhlak mulia.

Guru memosisikan siswa sebagai amanat yang harus dijaga dengan baik. Siswa pun diposisikan sebagai pelanggan yang perlu diberikan layanan terbaik. Dalam melaksanakannya memang tidak mudah. Guru dihadapkan pada berbagai tantangan, baik dari internal, maupun eksternal, seperti kondisi psikologis guru, pengaruh komunikasi guru dengan kepala sekolah, komunikasi antarsesama guru, latar belakang dan karakter siswa yang beragam.

Guru yang mendidik siswa dengan hati akan melakukan berbagai ikhtiar agar siswa-siswanya memahami materi pelajaran dan memiliki sikap yang baik disertai doa kepada Allah Swt agar diberikan kekuatan, kemudahan, dan petunjuk dalam melaksanakan tugas. Selain menjadi guru, dia pun menjadi pendengar yang baik terhadap harapan-harapan siswanya.

Dia menjadi teman diskusi yang menyenangkan bagi siswanya. Dia menjadikan siswa-siswanya bak anaknya sendiri yang diurusnya dengan penuh kasih sayang. Dia pun memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi siswa-siswa yang nakal disertai upaya dan doa agar siswanya tersebut segera diberikan hidayah dari Allah Swt.

Kepada para guru, mari kita melakukan refleksi; apakah dalam melaksanakan tugas mendidik siswa sudah diawali dengan yang lurus untuk mencerdaskan anak bangsa atau hanya sekedar melaksanakan tugas dan mendapatkan tunjangan profesi? Apakah dalam setiap salat dan doa-doa yang dipanjatkan, para siswa juga didoakan agar mereka diberikan kemudahan dalam belajar, dan dilembutkan hatinya agar menjadi manusia yang berakhlak mulia?

Apakah guru suka mengucapkan terima kasih jika dibantu oleh siswa? Apakah guru suka memohon maaf jika misalnya pernah berbuat salah kepada siswa? Apakah guru suka mendoakan agar para siswanya sukses di masa depan?  Hal tersebut dapat dilakukan jika guru mendidik disertai dengan hati.

Ketika siswa ada yang nakal atau sulit menerima pelajaran, mungkin saja sebagai dampak dari guru kurang ikhlas dalam menjalankan tugas, hanya menjadikan murid sebagai objek, padahal mereka adalah makhuk yang unik dengan segala kecerdasan yang dimilikinya. Mungkin siswa tidak mendapatkan hal yang memang yang diharapkannya di sekolah, seperti perhatian dan kasih sayang guru.

Hati siswa memang perlu disentuh dengan hati juga. Mendidik memang perlu kesabaran. Batu yang keras pun akan dapat tertembus oleh titik demi titik air yang terus jatuh di atasnya. Binatang yang buas pun jika mendapatkan perlakuan yang baik, diurus dengan penuh kasih sayang, diberikan apa yang menjadi keinginannya, ternyata dapat menjadi jinak dan turut kepada orang yang mengurusnya. Apalagi kalau manusia yang memiliki hati nurani?

Kategori
Artikel

9 Tips Super Menjadi Guru Teladan

9 Tips Super Menjadi Guru Teladan – Guru adalah seorang manusia yang diembani tugas untuk mendidik dan mengajari peserta didik. Dengannya siswa mendapatkan ilmu dan dengannya pula siswa memperoleh contoh serta teladan dari gurunya. Apabila seorang guru belum mampu untuk memberikan suatu contoh yang baik bagi anak didiknya, sungguh teramat disayangkan sekali. Dikhawatirkan generasi – generasi penerus yang dihasilkannya akan menjadi sesosok manusia yang tidak bermoral serta tidak beretika sebagai manusia berkhlakul karimah. Oleh karena itulah, guru yang teladan ada sesuatu yang urgen dan penting eksistensinya ditengah – tengah para siswa.

Membahas tentang tema”teladan”, maka disini kita bisa membuat kesimpulan bahwa guru pada dasarnya tidak sekedar mentransfer ilmu kepada muridnya saja akan tetapi bisa menjadi teladan bagi anak didiknya. Namun demikian, kita harus akui bersama tidak semua guru memiliki kemampuan tersebut. Banyak sekali diantara mereka yang belum mampu memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya. Disini setidaknya ada beberapa tips dan trik bagi anda para guru untuk menjadi seorang guru yang teladan. Adapun ulasannya adalah sebagi berikut:

1. Persiapkan mental

Mental sangat diperlukan ketika kita hendak mulai mengajar karena apapun yang sudah kita persiapkan akan hancur ketika dalam penyampaiannya gugup. Tanamkanlah dalam hati rasa percaya diri yang tinggi ketika berada dalam kelas.

2. Penuhi harapan anak didik/siswa

Siswa akan berharap banyak kepada guru, karena bagi mereka guru itu sumber ilmu. Apapun yang mereka belum ketahui pasti ditanyakan kepada guru.

3. Jadilah orang tua

Menjadi orang tua kedua bagi siswa adalah salah satu tugas seorang guru serta harus siap menghadapi kemanjaan dan kenakalan mereka, seperti menghadapi anak kandung sendiri.

4. Buatlah peraturan dalam kelas

Peraturan dibuat sebagai batasan atau rambu-rambu yang harus dipatuhi semua siswa. Sebaiknya peraturan dibuat berdasarkan musyawarah bersama antara guru dan siswa, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

5. Buatlah sanksi indisipliner

Sanksi yang diberlakukan bagi pelanggar peraturan pun harus telah didiskusikan dan disepakati sebelumnya antara guru dan anak didik. Jadi ketika mereka melakukan indisipliner sudah tahu sanksi yang akan mereka terima.

6. Hindari sikap tegang, selingi humor

Humor merupakan cara paling efektif bagi seorang guru untuk mencairkan suasana yang tegang ketika proses belajar mengajar berlangsung. Humor mampu menetralisir situasi.

7. Berkomunikasilah dengan semua

Berkomunikasi dengan anak didik itu sangat penting karena dari sinilah seorang guru dapat mengetahui karakter mereka. Dengan orang tua siswa juga perlu adanya komunikasi dua arah agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar. Guru juga harus mampu berkomunikasi dengan guru lainnya dan semua pihak sekolah.

8. Guru adalah pekerjaan mulia

Tanamkan rasa ikhlas dalam menyampaikan ilmu kepada anak didik serta yakinkan dalam diri bahwa pekerjaan yang dilakukan adalah mulia. Karena dari tangan gurulah generasi penerus bangsa akan tercipta. Baik buruknya mereka kita lah yang tentukan sebagai seorang guru.

Menjadi guru adalah sebuah kemuliaan, karena surat yang pertama kali turun dalam Al-Quran memerintahkan kepada umat manusia agar dapat membaca. Dan seorang siswa tidak akan mampu membaca tanpa ada yang mengajarkannya (dibaca : guru). Dan di sinilah peran guru sangat diperlukan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, baik cerdas secara kognitif maupun secara afektifnya.

Source: Dakwatuna.com